‘Cinta tak selamanya harus memiliki’
Itulah kata-kata ajaib yang dulu menjadi prinsip dasar ku dalam membina suatu hubungan. Sedikit puitis dan dramatis tapi sangat nyata. Ya, sangat nyata, karena apa yang terjadi dalam kehidupan ku membuat pemikiran ini berubah, tidak total tetapi sangat drastis.
“apakah dia yang akan menjadi istri ku nanti?”
kalimat itu muncul begitu saja, entah dari sudut mana atau dari otak sebelah mana kalimat itu bisa tercipta. Dia berdiri di pintu depan tempat ku bekerja, mungkin sedang menunggu temannya atau hanya kebetulan berdiri disitu, alasan kedua ini sangat susah untuk diterima, karena dia sedang melihat kedalam ruangan dan tersenyum-senyum, mungkin dengan salah satu orang diruangan ku. Kejadian selanjutnya aku tak tahu, hanya sekilas menatap gadis itu, walaupun sering melihat dia, karena kita bekerja dalam satu perusahaan yang sama.Tidak ada kejadian yang menarik atau perkenalan secara resmi antara kami, karena memang tidak ada apa-apa diantara kita.
“tapi Mawar kan udah bertunangan.” Kata temannya,
“saya ingin menikah dengannya!” nggak nyambung dan ngelantur, tapi itulah yang keluar dari mulut ku. Entah apa yang terjadi saat itu, tapi yang jelas gejolak dihati ini sudah tak bisa di bendung lagi, walaupun aku tahu, setiap hari dia diantar pulang oleh tunanganya, makan bersama tunanganya, dan kemana-mana bersama tunanganya itu, tidak membuat aku mundur selangkahpun untuk mendapatkan hatinya. Hati dari wanita yang dahulu kala berdiri di depan pintu ruangan ku.
“tapi Mawar kan udah bertunangan.” Kata temannya,
“saya ingin menikah dengannya!” nggak nyambung dan ngelantur, tapi itulah yang keluar dari mulut ku. Entah apa yang terjadi saat itu, tapi yang jelas gejolak dihati ini sudah tak bisa di bendung lagi, walaupun aku tahu, setiap hari dia diantar pulang oleh tunanganya, makan bersama tunanganya, dan kemana-mana bersama tunanganya itu, tidak membuat aku mundur selangkahpun untuk mendapatkan hatinya. Hati dari wanita yang dahulu kala berdiri di depan pintu ruangan ku.
jarang sekali kami ngobrol atau bercakap-cakap, yang ada hanya tegur sapa seadanya. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya gejolak rasa di hati ini, membuat ku berani untuk memulai suatu percakapan,Setiap hari, selalu aku sediakan waktu untuk menghubunginya, entah siang sehabis pulang kerja, atau sore bahkan malam, tak jadi masalah, yang penting bisa ngobrol dengannya. Bukan merasa kepe-dean, tapi aku bisa merasakan bahwa dia pun merasa senang bila kumenghubunginya. Hingga suatu hari, dengan mengumpulkan segenap keberanian, walaupun aku sadar dia tidak akan melihat wajah yang memerah ini, karena ini percakapan melalui telefon, ku katakan kepadanya “saya suka sama kamu, saya sayang kamu”. hening sejenak…“kamu kan tau saya udah ada bertunangan”, katanya.
“iya saya tau”
“jadi kamu tau kan saya akan mengatakan apa ?” jawabnya.
“Iya saya tau juga”
Hening lagi…..
“kamu jangan nangis ya..”
“hahahaa, ya nggak lah” bisa ku rasakan wajah ini makin memerah, “saya hanya ingin kamu tau, apa yang saya rasakan, itu saja sudah cukup” ada perasaan bangga bercampur sakit dan sedih ketika mengatakan hal itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar